Dunia Anak-anak yang Hilang

Senin, 25 April 2016
Posted by ismailamin
Anak-anak bukan milikmu
            Mereka putra-putri kehidupan
            Yang rindu pada dirinya
            Kau bisa berikan kasih sayangmu
            Tapi tidak pikiranmu...

Begitulah Kahlil Gibran, penyair asal Libanon berbicara soal hakekat kemanusiaan. Syair diatas dikutip dari buku kecil, The Prophet, Gibran’s master piece, 1976 yang telah diterjemahkan dalam lebih dari 20 bahasa. Syair Kahlil Gibran tentang anak tersebut memang indah dan bermakna dalam. Kita dapat menangkap bahwa esensialnya anak itu adalah milik dirinya sendiri. Para orangtua dan masyarakat secara umum hanyalah berkewajiban membesarkan dan mendidik. Ibu berkewajiban memberikan cinta hatinya tetapi pikiran anak itu adalah hak dirinya sendiri sepenuhnya. Orangtua dalam membesarkan dan mendidik dapat dengan cara memberikan pengetahuan dan isi-isi untuk bahan pemikiran anak itu; tetapi tidak sampai membuat pikiran-pikiran orangtua adalah harus sepenuhnya menjadi pikiran anak juga. Dari sinilah kemudian terjadi ’kekisruhan budaya’ (meminjam istilah Emha Ainun Nadjib) hubungan antara anak dan orangtua. Dalam banyak kejadian sering orang-orangtua kita bukan sekedar memberikan alternatif tetapi menganggap bahwa apa yang diberikan kepada anak adalah satu-satunya yang terbaik, tidak ada alternatif lain. Ajaran orangtua sepenuhnya harus dianut, dipatuhi dan orangtua bisa sakit-sakitan dan bersedih hati jika sang anak tidak mengikuti pikirannya. Dalam hal ini, seringkali orangtua menjadi tiran bagi anaknya. Orangtua menerapkan konsep pikirannya pada anaknya. Orangtualah yang mengarahkan dan menentukan jalan hidup dan masa depan anaknya. Orangtualah yang memilihkan cita-citanya, profesi, bahkan sampai hal yang paling privacy mengenai pilihan suami atau istri misalnya. Anak-anak sering dianggap sepenuhnya adalah milik orangtua yang tidak memiliki dunia sendiri. Bagaimana kemudian kita melihat anak-anak yang sebetulnya cerdas menjadi kurang bertumbuh bahkan teramat kerdil karena kebanyakan orangtua punya kecenderungan untuk terlalu mengatur mereka, terlalu menentukan, terlalu menyutradarai, terlalu mengarahkan, terlalu banyak memerintah dan melarang yang pada akhirnya membuat nafas kemerdekaan anak-anak menjadi tersengal-sengal.

Kreativitas yang Terpasung
    
Kreativitas memerlukan kemerdekaan. Kemerdekaan disini bukanlah kebebasan yang sebebas-bebasnya. Tentu saja yang dimaksud adalah kemerdekaan dalam konteks kodrati manusia. Ketika orangtua memberi pandangan. Sang anak berhak sepenuhnya untuk menerima atau menolak pandangan tersebut. Perlu ada kebiasaan untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk menentukan sendiri pilihannya, arah dari pilihan tersebut serta resiko apapun yang bakal terjadi dari pilihan tersebut. Persoalannya, anak kurang dididik untuk mengungkapkan dan mengenali dirinya. Anak lebih banyak dikendalikan daripada dimerdekakan. Sebab kemerdekaan itu besar resikonya dan dibutuhkan kesediaan untuk mungkin’diberontak’ oleh anaknya. Salah satu buktinya, polling yang pernah dilakukan oleh salah satu media tentang keinginan orangtua terhadap anaknya, hampir 70 % orangtua menginginkan anaknya rajin, sopan dan patuh dan hanya segelintir orangtua yang menginginkan anaknya cerdas dan kreatif.

Anak-anak (di) Sekolah, The Lost Generation

Faktor penentu selanjutnya anak-anak  kehilangan kreativitas dan dunianya adalah pendidikan formal dalam hal ini sekolah ataupun universitas. Sekolah yang idealnya menawarkan kegembiraan dan dunia petualangan yang bikin penasaran dalam banyak hal tidak lebih baik dari pola pendidikan orangtua kebanyakan. Di sekolah para anak didik terlalu disetting dan diformat sesuai dengan kehendak dan keinginan sekolah. Ketika memasuki halaman sekolah, anak-anak sebagai individu hilang secara autentik. Yang ada adalah penyeragaman yang menepis kekhasan manusia sebagai makhluk unik yang tak bisa dibandingkan dengan manusia lain diluar dirinya. Anak didik hanya memainkan peran pembantu, sebab guru adalah aktornya, pelajar hanya akan menjadi pelengkap penderita yang lebih diperlakukan sebagai obyek ketimbang subyek. Proses pendidikan semacam ini menurut Chaedar Alwasih (1993;23) hanya berfungsi untuk ‘membunuh’ kreativitas siswa, karena lebih mengedepankan verbalisme. Verbalisme merupakaan suatu asas pendidikan yang menekankan hapalan bukannya pemahaman, mengedepankan formulasi daripada substansi, parahnya lebih menyukai keseragaman bukannya kemandirian serta hura-hura klasikal bukannya petualangan intelektual. Model pendidikan demikian oleh Paulo Freire dikritik sebagai banking education, hubungan antara guru dengan murid sangat hirearkis dan bersifat vertikal; bahwa guru bicara, menjelaskan dan memberi contoh sementara murid menjadi pendengar saja.

Tidak banyak yang sadar bahwa dengan model pendidikan yang menjadikan murid semata-mata sebagai obyek adalah bentuk kekerasan dan pelanggaran terhadap anak. Pendidikan gaya bank menghalalkan dipakainya kekerasan untuk menertibkan dan mengendalikan para murid. Murid dibelenggu dan ditekan untuk mematuhi apapun perintah dan anjuran pendidik. Kesadaran individu dikikis habis dan mengggantinya dengan kesadaran kolektif yang seragam. Efeknya memunculkan kepribadian yang mekanik, mirip dengan benda mati yang kehilangan kebugaran dan kreativitas. Dari sinilah proses pembinatangan (bahasa halusnya: dehumanisasi) terjadi.

Kita dapat saksikan bagaimana nasib anak-anak yang sekarang waktu yang seharusnya diisi dengan permainan dan kegembiraan ditelan untuk belajar, menghapal, memahami dan mengerti berbagai paket pengetahuan, dari pagi hinga sore mirip pekerja pabrik menghabiskan waktunya di ruang kelas untuk menelan pelajaran yang dalam banyak hal tidak menyenangkan. Seorang peneliti pendidikan menulis di harian Kompas  (17 /8/2003) menurut temuannya rata-rata setiap murid SD kelas 3 sampai kelas 6 dalam setiap kuartal mempelajari sejumlah buku yang ketika ditimbang beratnya 43 kilogram, melebihi berat badan murid SD sendiri. Beban pelajaran ini kemudian diteskan lewat serangkaian ujian yang hasilnya kemudian dimuat dalam rapor yang penilaiannya berupa angka atau huruf. Parahnya, nilai kemanusiaan anak itupun direlevankan dengan nilai raport, semakin tinggi nilai raport maka akan semakin naik pula kemuliaan dan harga diri anak didik, orangtua dan gurunya. Korban dari sistem ini adalah eksistensi individu yang pada dasarnya memiliki kebebasan.  Proses pendidikan yang seharusnya, sebagaimana makna sejatinya yakni menggiring keluar atau membebaskan potensi kemanusiaan yang ada dalam diri setiap individu belumlah terwujud. Yang ada justru pendidikan yang hanya menghasilkan airmata (Shindunata,2000).

Kesimpulan
           
Kutipan dari Ghibran diatas, mengajak para orangtua dan para pendidik secara umum untuk mengubah pandangan mereka tentang anak. Anak adalah putra-putri kehidupan para pemilik masa depan. Mereka harus dipersiapkan dengan dikasihi dan dididik menjadi diri mereka sendiri agar tumbuh dewasa dan mandiri. Anak-anak mesti dibiasakan sejak dini dari hidupnya untuk selalu belajar kepada siapa dan dimana saja, mencari dan menemukan. Agar ia bisa memilih dirinya, bisa menentukan ungkapan pribadinya, agar tidak lagi mengatakan, “Inilah dada bapakku” tetapi secara tegas berani mengatakan”Inilah dadaku!”, begitu seharusnya seorang anak, kata Imam Ali As.


Seperti yang dipertanyakan juga oleh Emha Ainun Nadjib, dunia anak-anak itu ada mengapa kita tiadakan?   

Ismail Amin, sementara menetap di Qom. 
Taufik Ismail, sastrawan dan Budayawan besar yang dimiliki bangsa ini ternyata tidak cukup hanya dengan malu sebagai seorang Indonesia, namun juga telah mengambil kesimpulan bangsa ini sudah diambang kehancuran. Pernyataan inipun dipertegas oleh beberapa intelektual, sastrawan, budayawan serta yang mengaku sebagai pejuang demokrasi. Ceramah-ceramah di mimbar dan halaman-halaman koran mengutip makian dan kutukan mereka. 

Data-datapun dipaparkan; jumlah resmi orang miskin 39,5 juta jiwa. Angka yang fantastis untuk sebuah negara yang telah merdeka 62 tahun lebih. DiAsia Tenggara indeks pembangunan manusia Indonesiamenempati posisi ke-7 di bawah Vietnam. Negara kitapun masuk Guines Book of Record karena menjadi negara perusak hutan tercepat di dunia. Walaupun telah gundul, masih saja terjadi penebangan liar yang merugikan negara sekitar USD 2 Miliar. Dengan seringnya terjadi kecelakaan transportasi beruntun dinegara kita, pemerintah AS mengeluarkan anjuran kepada warganya untuk tidak bepergian menggunakan maskapai penerbangan Indonesia. Indonesia duduk di ranking 143 dari 179 negara di dunia menurut Transparency International (IT) 2007 dengan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2,3. Dengan indeks ini Indonesia sejajar dengan Gabia dan Togo dan kalah bahkan oleh Timor Leste. 

Pemerintah kitapun terengah-engah untuk menjaga sebuah kedaulatan, Malaysia tidak hanya berani merebut dua pulau Indonesia namun juga mengklaim Lagu "Rasa Sayange" dan alat musik angklung sebagai milik mereka. Media-media cetak melansir berita, "Kita ini sudah miskin, otak ngeres pula". Dengan paparan data, Indonesia pengakses situs porno ranking ke-7 dunia.4.200.000 situs porno di dunia, 100.000 diantaranya situs porno Indonesia. 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar pornografi. 40% anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan seks pranikah. Dan setiap hari kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD satu-satu atau ramai-ramai. Kitapun bahkan pernah dikejutkan dengan data 97,05 % mahasiswi sebua hkota besar telah kehilangan keperawanannya. Salahkah menyajikan data dan fakta ini?. 

Tentu saja tidak. Sebab kenyataan harus selalu dikabarkan. Namun bagi saya adalah kesalahan kalau hanya sekedar mengutuk dan mencecerkan aib sendiri lalu kemudian pesimis dan tidak berbuat apa-apa. Bahkan saya melihat ada kecenderungan untuk diakui sebagai pakar ataupun aktivis harus lebih dulu berani menyematkan stigma-stigma buruk pada bangsa kita ini. Kalau orang asing menghina kita sebagai bangsa yang terbelakang dan bodoh, maka kita harus mengamini dan memaparkan bukti bahwa bangsa kita memang terbelakang. Tidak bisa kita pungkiri, kenyataan menyedihkan ini kita temukan dalam dunia intelektual kita. Untuk disebut intelektual, sastrawan, budayawan dan pakar yang kritis harus berani mencari aib bangsa sendiri untuk dibeberkan kepada orang asing. Apa ini namanya kalau bukan pengkhianatan?. 

Tidakkah kita melihat ada tujuan-tujuan politis dibalik stigma-stigma buruk yang disematkan negara lain pada bangsa kita?. Tidak sedikit negara yang lebih tertinggal dari Indonesia namun masih bisa membusungkan dada dan disegani di dunia internasional karena mereka punya harga diri dan berusaha menjaganya. Ketika diberi stigma buruk, mereka justru melakukan usaha untuk menepis stigma itu.

Prestasi Anak Bangsa dan Penyikapan Kita

Tampak ada kecenderungan masyarakat kita lebih tertarik mengkonsumsi berita-berita pelajar yang terlibat tawuran dan yang berani tampil bugil dibanding prestasi-prestasi yang diraih anak-anak muda kita. Anggapan yang timbul pun cenderung melihat anak-anak muda kita sebagai potensi masalah ketimbang sebuah harapan. Seberapa banyak dari kita yang mengenal Muh. Firmansyah Karim, pelajar SMA Athirah Makassar yang mengejutkan dunia intenasional dengan meraih medali emas tahun 2007 pada ajang Olimpiade Fisika Internasional (IPhO) ke-38 di Isfahan Iran. 

Medali emas indonesia dipersembahkan pelajarkelas I padahal hampir semua peserta olimpiade adalahkelas III SMA dan soal-soal yang diberikan setaradengan soal fisika tingkat S2/S3. Selesai upacara pemberian medali, semua orang menyalami. Prof. Yohanes Surya Ph.D pembina Tim menceritakan, “…86 negara mengucapkan selamat, suasananya sangat mengharukan, saya tidak bisa menceritakan dengan kata-kata.. Gaung kemenangan Indonesia menggema cukup keras. Seorang prof dari Belgia mengirim sms seperti berikut: Echo of Indonesian Victory has reached Europe! Congratulations to the champions and their coach for these amazing successes!" dan orang Iran memeluk sambil berkata "great wonderful...". Tidakkah cerita ini turut menggetarkan hati kita?.

Pada Olimpiade Fisika Asia ke 8 di China.  Kembali secara luar biasa Muhammad Firmansyah Kasim (SMA Athirah Makasar) berhasil mengalahkan seluruh pasukan Naga (China) sebanyak 16 orang yang menjadi tuan rumah dalam bidang eksperimen Fisika, sekaligus meraih medali emas.

Begitupun pada ajang olimpiade sains lainnya, pelajar-pelajar kita selalu mempersembahkan prestasi yang gemilang. Kitapun mungkin telah lupa dengan Sulfahri, siswa SMA Negeri 1 Bulukumba yang telah menjadi duta Indonesia di ajang International Exhibition for Young Inventor (IEYI) di New Delhi,India 2007 dan tercatat sebagai seorang penemu muda internasional.

Begitupun Firman Jamil, seniman Indonesia asal Sul-Sel mengukir prestasi yang tidak kalah gemilangnya. Firman Jamil telah beberapa kali melanglang buana ke luar negeri, dalam rangka pementasan karya seninya. Salah satunya, berhasil lolos seleksi pada Festival Seni Patung Outdoor di Taiwan dari 165 seniman pelamar dari berbagai belahan dunia.

Sayapun merasa perlu untuk menyodorkan nama cendekiawan muslim Indonesia, Dr. Luthfi Assyaukanie yang menjadi mahasiswa asing pertama Universitas Melbourne yang memenangkan "Chancellor's Prize"setelah tesis doktoralnya terpilih sebagai disertasi terbaik diantara hampir 500 tesis lainnya. Bahkan salah seorang astronot kita, Dr. Johni Setiawan tercatat sebagai 1 dari 4 orang di Jerman yang menemukan planet. Dr. J.Setiawan yang baru berusia 30 tahun menemukan planet ekstra solar yang mengelilingi bintang HD11977 yang berjarak 200 tahun cahaya. Yang tidak kalah gemilangnya, Bocah Indonesia, March Boedihardjo, mencatatkan diri sebagai mahasiswa termuda di Universitas Baptist Hong Kong (HKBU) dengan usia sembilan tahun. Bila lulus nanti, March akan memiliki gelar sarjana sains ilmu matematika sekaligus master filosofi matematika. 

Di Iran sendiri, pelajar-pelajar Indonesia diantara pelajar-pelajar asing lainnya selalu memiliki indeks prestasi tertinggi. Logikanya, jika anak-anak bangsa ini sering berprestasi bahkan sampai ajang internasional berarti memang SDM kita tidak perlu diragukan. Prestasi sesederhana apapun yang diraih anak bangsa harus didukung dan diapresiasi. Bukan dicelah atau difitnah. Bahkan sampai mengatakan prestasi olimpiade sains atauprestasi lainnya hanya kamuflase dan tidakmencerminkan kondisi pendidikan dan kualitas manusia Indonesia. 

Prestasi yang diraih bukanlah tujuan melainkan merupakan propaganda bahwa kitapun tidak kalah, punya daya saing dan kehormatan. Negara ini dibentuk dan diperjuangkan kemerdekaannya oleh para pendahulu memang bukan untuk unggul di atas bangsa-bangsa, namun agar diakui sebagai bangsa yang memiliki kedaulatan, bangsa yang akan mensejahterahkan rakyatnya. Simak saja, penggalan pidato Ir. Soekarno pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, "Di dalam Indonesia merdeka kita melatih pemuda kita, agar supaya menjadi kuat. Di dalam Indonesia merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya." 

Memang saat ini kondisi sosial kita buruk, mesti kita akui itu. Namun marilah kita melihat peluang-peluang yang bisa dilakukan dan hal-hal baik yang mesti dipelihara. Lihatlah betapa banyak gunungan potensi yang dimiliki bangsa ini. Negara ini belum berakhir. Kita sudah divonis menderita krisis ekonomi akut, namun kenyataan mempertontonkan masyarakat kita masih saja mampu berjubel di mall-mall yang membuat para pengamat luar negeri terheran-heran. Sayapun tidak sepakat kalau kita disibukkan hanya dengan mengejar prestasi lalu mengabaikan kesejahteraan rakyat yang menjadi tujuan utama bangsa ini. Sebab pendidikan merupakan urusan yang lebih tinggi ketimbang menjadi juara olimpiade dan lulus UAN. 

Pendidikan adalah kekuatan strategis dan terpokok dalam mengeluarkan bangsa ini dari lubang derita. Pendidikan mengajarkan kita tentang identitas, harga diri bahkan ideologi sebuah bangsa. Namun, saya lebih tidak sepakat lagi dengan upaya-upaya menggembosi dan mencemooh terus menerus bangsa ini. Bagi saya itu menunjukkan bahwa kita benar-benar bangsa yang bodoh. 

Wallahu 'alam bishshawwab.

Ismail Amin
Mahasiswa Mostafa International University Islamic Republic of Iran


Merayakan Tahun Baru di Iran

Sabtu, 19 Maret 2016
Posted by ismailamin
Tag :
Oleh media-media Barat, Iran diperkenalkan sebagai negara yang masyarakatnya fundamental dan radikal, bahkan CNN menyebut mereka sebagai orang-orang yang keras kepala. Namun, ada fenomena menarik yang jarang diungkap mereka mengenai masyarakat Iran. Bagi yang pernah mengunjungi Iran, pasti tahu benar fenomena ini. Masyarakat Iran adalah masyarakat yang begitu gandrung dengan bunga-bungaan. Ukiran pintu dan dinding-dinding tiap bangunan, pagar, halte bis, desain papan-papan reklame selalu dengan motif bunga-bungaan. Saling memberi bunga pun menjadi budaya yang mengakar di dalam masyarakat yang dipimpin para Mullah ini. Dari ulang tahun, melamar, menyambut kelahiran anak, menjenguk orang sakit, melayat, menjemput keluarga di bandara atau stasiun kereta api, bertamu, meminta maaf, mengucapkan selamat dan merayakan hari-hari penting sudah menjadi kebiasaan untuk saling memberi minimal setangkai bunga. Murid-murid sekolah di hari guru (bertepatan dengan hari syahidnya Murtadha Muthahari) membawa setangkai bunga untuk diserahkan kepada gurunya. Di hari Ibu dan Perempuan (bertepatan dengan kelahiran Sayyidah Fatimah) para suami berjalan kaki sepulang kerja dengan membawa bunga di tangan. Mereka sengaja tidak berkendara agar bunga di tangan tetap segar dan tidak rusak ketika diberikan kepada sang istri. Sementara anak-anak sepulang sekolah berdesak-desakan di kios-kios penjual bunga untuk membeli setangkai bunga untuk ibu mereka. Karenanya tak heran, di setiap sudut jalan selalu saja ada kios penjual bunga.

Sejarahpun menyisakan catatan mengenai bunga dan perannya dalam revolusi Islam Iran. Revolusi Islam Iran 1979 juga dikenal dengan sebutan "Revolusi Bunga". Hari itu, rakyat Iran menghadapi kekuatan militer Syah yang memiliki persenjataan paling lengkap dan personel polisi yang paling mengerikan di dunia -saat itu- dengan lontaran bunga. Dengan lontaran bunga itulah mereka bisa memukul mundur militer dan meruntuhkan Dinasti Pahlevi. Sejak dari sinilah, masyarakat Iran semakin mencintai bunga-bunga dan seolah-olah tidak bisa melepaskan kehidupannya dengan bunga. Romantisme masyarakat Iran yang dibahasakan lewat bunga inilah yang jarang diungkap media.





Begitu juga dalam menyambut tahun baru Iran. Kios-kios penjual bunga menjamur di jalan-jalan. Semacam kewajiban bagi mereka, memberi ucapan selamat tahun baru sembari menyerahkan bunga. Selain itu, terdapat beberapa tradisi khusus masyarakat Iran dalam menyambut dan merayakan tahun baru mereka. Dalam penanggalan Iran  hari tahun baru adalah hari pertama di musim semi (disebut Fasl-e Bahor) yang setiap tahunnya bertepatan dengan tanggal 21 Maret. Sistem penanggalan Iran telah disusun sejak 1725 tahun sebelum Masehi dan terus mengalami penyempurnaan hingga kini. Dimasa kekhalifaan Islam, kalender Iran mengalami penyesuaian dengan kalender Islam dan disebut dengan Kalender Hijriyah Syamsi sebab penentuan tanggal Iran berdasar pada edar bumi terhadap matahari dan disebut Hijriyah karena tahun pertamanya juga dihitung dari hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah. Adanya perbedaan jumlah hari dalam setahun dengan kalender Hijriyah Qamari menyebabkan jalannya tahun pada kalender Iran lebih lambat dan tahun ini baru memasuki 1395 HS sementara kalender Hijriyah telah memasuki tahun ke 1436 H.

Tradisi menyambut tahun baru (mereka menyebutnya Nouruuz) dimulai sejak dua-tiga minggu sebelum bulan Esfand (bulan terakhir dalam penanggalan Iran) berakhir.  Hari-hari itu para ibu disibukkan dengan membersihkan rumah dan berbelanja hiasan baru untuk rumah mereka. Dengan adanya tradisi ini tentu saja pengeluaran di akhir tahun juga semakin bertambah, maka umumnya, kantor negara atau perusahaan di akhir tahun memberikan memberikan bonus atau hadiah tahun baru. Banyak sesuatu yang harus tersedia dalam prosesi penyambutan tahun baru. Dalam menyambut detik-detik masuknya tahun baru di hari terakhir tahun yang akan ditinggalkan, semua anggota keluarga dengan menggunakan pakaian terbaik mereka -biasanya selalu baru- akan duduk mengelilingi meja makan. Di atas meja makan telah tersedia tujuh buah jenis makanan, yang kesemuanya berawalan huruf sin (abjad Arab). Mereka menyebut makanan tersebut dengan haft-e sin (tujuh huruf sin) yang merupakan pelambang tujuh kreasi ciptaan Allah yang harus disyukuri dan dipelihara. Ketujuh makanan tersebut terdiri dari: Serkeh (cuka) yang bisa mengawetkan makanan melambangkan usia yang panjang dan kelestarian, Sir (bawang putih) yang melambangkan penyembuh, Samanu (semacam manisan yang terbuat dari gandum) yang melambangkan kemakmuran, Sib (apel) melambangkan kecantikan dan kesegaran, Sabzi (sayuran) melambangkan kesuburan dan kehidupan, Sumac (bumbu yang biasa ditaburkan pada kebab) melambangkan warna matahari terbit, dan Senjed (buah-buahan kering) yang melambangkan cinta dan perlindungan.
 
Yang juga biasanya tersaji di meja makanan adalah bibit gandum yang sudah tumbuh 4-7 cm di taruh pada keranjang kecil, cermin, Al Quran, ikan mas hidup dalam toples kaca, lilin, dan telur yang berwarna warni lebih seringnya berwarna bendera kebangsaan Iran, konon katanya tradisi ini telah berumur 15.000 tahun. Lilin pelita disimbolkan sebagai lambang penerangan dan cahaya kehidupan. Cermin merefleksikan masa lalu agar bisa menentukan rencana apa yang akan dilakukan di masa depan. Bibit gandum biasanya sesuai dengan jumlah anggota keluarga melambangkan produktivitas. Telur yang didekorasi dengan warna kebangsaannya melambangkan sentuhan patriotisme. Ikan mas dalam toples melambangkan hidup yang penuh aktivitas dan gerakan.

Terakhir, Kitab Suci (bagi yang muslim, Al-Qur'an) melambangkan apapun yang mereka lakukan harus ditujukan hanya kepada Tuhan yang Esa dan berpedoman pada Kitab Suci. Ketika pemerintah melalui televisi secara resmi mengumumkan saat pergantian tahun, maka seluruh anggota keluarga saling berangkulan, mengucapkan selamat dan saling memberi bunga di antara mereka. Kepala keluarga lalu membacakan Al Quran dan doa-doa keselamatan. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama, sebagai lambang keharmonisan keluarga mereka.

Di Qom, masyarakat Iran tumpah ruah di halaman kompleks pemakaman Sayyidah Maksumah, mereka melakukan do'a bersama dalam menyambut tahun baru 1395 HS. Hari-hari selanjutnya adalah hari saling mengunjungi sanak famili dan handai tolan serta berekreasi di tempat wisata dan berlangsung selama 12 hari kedepan. Secara resmi hari-hari tersebut adalah hari-hari libur. Diantara berbagai perayaan tahun baru di dunia bisa jadi perayaan tahun baru di Iran inilah yang terpanjang.

Selamat tahun baru Persia 1395 HS.
Nouruuz Mubarak Bod.

Ismail Amin
WNI Sementara menetap di Qom-Iran



Sedikit Catatatan untuk KH. Arifin Ilham Hafidzahullah

Selasa, 15 Maret 2016
Posted by ismailamin
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya lebih sreg menyapa KH. Arifin Ilham dengan sebutan abang… sapaan agar saya juga lebih nyaman menulis catatan ini…

Begini bang…maaf ya…

Saya membaca postingan abang mengenai tindakan Densus 88 yang menyebabkan kematian tersangka yang ditangkapnya… yang abang sebut itu sebagai tindakan zalim… bahkan sampai menyebutnya teror untuk umat Islam, yang sama sekali tidak disertai bukti yang akurat dan data yang komplit…

Saya mau tanya bang… kok ya saya tidak pernah membaca pernyataan dari abang, mengenai berbagai aksi terorisme di Indonesia yang menelan tidak sedikit korban jiwa, abang sebut sebagai teror untuk umat Islam… ingat kasus peledakan bom di masjid polisi Jakarta, Cirebon dan Poso, meski tidak ada korban jiwa (kecuali pelaku sendiri yang tewas) tapi puluhan korban luka-luka dan harus menanggung cacat seumur hidup… mengapa tidak ada pernyataan dari abang, bahwa itu teror untuk umat Islam, terlebih lagi itu dilakukan diareal masjid… kasus bom-bom bunuh diri lainnya, yang sampai menelan korban jiwa… harus abang catat, korban jiwanya justru termasuk dari orang Islam sendiri…

Abang menuntut, agar ketika pelaku (atau tersangka pelaku) ditangkap harus diperlakukan adil, harus diadili terlebih dahulu dan dibeberkan bukti-buktinya dihadapan publik, sementara abang sendiri tidak pernah menuntut jaringan terorisme untuk menunjukkan bukti bahwa orang-orang yang mereka incar untuk dibunuh itu, memang layak untuk dibunuh, dilukai, dibom dan diteror… mana letak keadilan anda bang…?

Bang… Densus 88 bisa saja melakuan kesalahan dalam melakukan operasinya, tapi lihat tujuannya dan maksudnya melakukan itu… untuk menjamin keamanan bang… untuk menjamin dikemudian hari tidak ada lagi warga sipil dan rakyat yang harus mati sia-sia karena menjadi korban terorisme, sementara pelaku teror itu tujuannya apa bang? masuk surga bang.. yang dipikirkannya kepentingannya sendiri… mereka tidak mau melihat akibat dari aksi terornya tersebut… keluarga korban yang harus kehilangan orang-orang terkasihnya…apa umat Islam diuntungkan dengan itu? apakah lantas umat Islam jadi disegani karena aksi terornya itu? tidak kan bang…

Ini negara hukum bang… ada undang-undang dan aturan yang mengikat agar Densus 88 tidak sewenang-wenang dan semaunya menangkap dan membunuh orang yang dicurigainya teroris… beberkan bukti-bukti, silahkan menuntut agar kasus-kasus yang melibatkan Densus diusut tuntas, sampaikan suara protes dan pengaduan abang ke DPR, kemahkamah, kepolisi dan instansi-instansi terkait, libatkan lembaga-lembaga bantuan hukum...bukan dengan membuat surat-surat seperti ini yang mengarahkan opini publik untuk membenci dan memusuhi aparat negara... apalagi sampai menyebutnya teror atas umat Islam segala...

apakah bagi abang, hanya tersangka teroris yang dibunuh oleh Densus itu saja yang mukmin sehingga mengumbar ayat ancaman neraka jahannam bagi Densus, sementara korban-korban terorisme yang meregang nyawa, abang tidak menunjukkan ayat serupa kepada kelompok jaringan terorisme betapa yang dilakukannya adalah dosa yang sangat besar? mengapa abang justru diam saja, bahkan berkawan akrab sama Abu Jibril yang punya media Arrahmah yang konten-konten situsnya malah memuji-muji pelaku terorisme sebagai mujahidin dan akan mendapat balasan surga…? katanya abang benci terorisme?

silahkan abang baca konten arrahmah ini:

http://www.arrahmah.com/read/2008/11/09/2584-as-syahid-imam-samudra-bergabung-dengan-kafilah-syuhada.html

atau cukup melihat screen shoot foto-foto dari media yang mengklaim media Islam ini:




apa salah, kalau Islam diidentikkan dengan terorisme, kalau mereka yang terbukti teroris dengan menghilangkan nyawa banyak orang, melawan aparat dengan tembakan senjata dan menyimpan bahan-bahan peledak, oleh media-media yang mengklaim diri media Islam, menyebut mereka syuhada dan pemakaman mereka diwarnai pekikan takbir dan bendera-bendera ala ISIS segala...? kalau menolak Islam diidentikkan dengan terorisme, mengapa pada teroris-teroris itu disematkan simbol-simbol Islam dan dielu-elukan sebagai pahlawan Islam? mengapa tidak ada teguran dan protes abang untuk mereka?

jangan main-main bang dengan ancaman terorisme… kalau abang mau coba… silahkan buat tulisan yang isinya abang mengecam terorisme dan kelompok yang mengatasnamakan Islam dalam menjalankan aksi terorismenya… coba deh, abang coba… kecam tuh, kelompok-kelompok Islam yang malah mengelu-elukan pelaku teror bom Sarinah, bom Bali, bom Solo, bom Palopo, bom JW Marriot, bom Makassar dll sebagai mujahidin dan pembela Islam… ancam mereka dengan ayat-ayat dan hadits-hadits yang abang gunakan untuk mengancam Densus… semoga abang dan pesantren abang tidak menjadi incaran teror untuk dimusnahkan… atau coba deh bang… untuk kembalikan nama masjid yang abang kelola itu seperti sebelumnya, sebagaimana yang dikehendaki donaturnya… apa abang berani? takut kan bang?

kalau tidak mau Islam diidentikkan dengan terorisme, ya hentikan propaganda-propaganda bahwa setiap Densus 88 membekuk teroris agar tidak berhasil menjalankan aksi terornya sebagai tindakan teror terhadap umat Islam, sebagai tindakan yang sewenang-wenang… hentikan berita-berita yang mengelu-elukan teroris itu, bahwa matinya tersenyum, dijamin surga dan menjadi syuhada… itu sama saja memancing orang lain untuk memang mengindentikkan Islam dengan terorisme…

Oh iya bang… kita harus bersyukur kelompok teroris di Indonesia tidak berkembang sebagaimana Taliban di Pakistan dan Boko Haram di Afrika, yang aksi terornya bahkan sampai menargetkan sekolah-sekolah, menculik siswi-siswi dan membantai guru dihadapan murid-muridnya… atau seperti di Saudi, Yaman, Suriah dan Irak yang bahkan terorisnya membom masjid disaat masjid tersebut penuh oleh jamaah yang sedang shalat…



harusnya abang berterimakasih kejadian-kejadian tersebut tidak terjadi di negeri ini… tapi akan benar-benar terjadi, kalau media-media seperti Jonru Page, Islam Pos, Arrahmah, Nahi Munkar, Voa Islam yang menyerukan Densus 88 untuk dibubarkan itu dibiarkan sembari memuji-muji aksi teror sebagai perjuangan di jalan Allah dan mengkampanyekan permusuhan kepada aparat negara…

bersyukurlah bang, majelis zikir abang, yang membuat abang populer dan dikenal banyak orang itu sampai sekarang masih aman dan tetap dihadiri ribuan manusia, tidak pernah ada yang melakukan aksi bom bunuh diri ditengah-tengahnya… itu sampai bisa aman begitu, hasil kerja siapa bang? kok, sekarang malah mengajak-ajak jamaah abang untuk turut mencurigai Densus dan menyebut mereka telah melakukan teror atas umat Islam? malah abang harus tahu, tidak sedikit dari jamaah abang menuding, anggota-anggota Densus itu kebanyakan non muslim... apa mereka mau memecah belah antar penganut agama dinegeri ini dengan isu-isu sektarian seperti itu?

coba deh, abang sekali-kali melakukan majelis zikir sekarang di Libya, negara yang dulu sering abang kunjungi dan sanjung-sanjung… berani gak bang…?
asal abang tahu saja, tiap hari di Pakistan dan negara-negara di Afrika itu melakukan aksi demonstrasi menuntut pemerintah membentuk Densus dan badan khusus untuk menanggulangi terorisme… tapi mereka tetap gagal menanggulanginya… saban hari ada ledakan bom, dipasar, dijalan, dipos polisi, bahkan dimajelis-majelis pengajian… kita punya yang mereka tuntut, kok sampai ada seruan dari jamaah abang Densus di negeri ini harus dimusuhi dan minta dibubarkan setelah membaca postingan abang itu…? itu tidak tahu diuntung namanya…



Densus itu bukan KPK, yang punya prosedur harus membuktikan dulu dipengadilan, baru bisa menyebut tersangka sebagai koruptor. Densus dilatih untuk bersikap tegas dalam memilih resiko, lebih baik salah dalam mengeksekusi orang daripada kecolongan… kecolongannya bukan main-main bang.. banyak nyawa yang dipertaruhkan, belum lagi kerugian material yang harus ditanggung oleh satu bom yang meledak… yang melahirkan teroris-teroris baru itu, bukan karena Densus yang salah eksekusi tapi, adanya pernyataan-pernyataan yang memprovokasi ummat bahwa Densus itu musuh Islam, teroris yang sebenarnya dan upaya-upaya menanamkan dendam dan kebencian pada aparat negara...

bersimpatiklah bang… pada keluarga korban terorisme… mereka pasti menginginkan agar apa yang menimpa orang-orang terkasihnya tidak terjadi pada yang lainnya…
mari bekerjasama bang... kita tuntut Densus dan seluruh aparat untuk terus meningkatkan profesionalisme kerja dan kehati-hatian.... sembari menjaga ummat agar tidak terprovokasi kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam untuk menciptakan teror dan kerusakan... abang, bukan bagian dari jaringan terorisme kan, sampai harus mencak-mencak gitu, kalau ada pelaku atau tersangka teroris yang dibekuk Densus...? saya sangat yakin, bukan... abang hanya terpanggil untuk menolak segala bentuk kezaliman dan kesewenang-wenangan... tapi malah terkesan tendensius pada hasil kerja aparat...

kita berduka cita atas darah yang tertumpah dari anak negeri ini... siapapun dia... sebab pelaku terorisme juga pada dasarnya adalah korban... korban pembodohan dan provokasi.. terlebih lagi kalau memang benar Siyono adalah korban salah tangkap Densus, dan telah mengalami kezaliman... maka Densus patut didesak untuk memberikan klarifikasi dan pertanggungjawabannya.. kita mendungkung segala bentuk upaya penegakan keadilan di negeri ini... itu yang harus kita dorong bang...

Semoga abang sehat selalu… salam buat keluarga abang… mabruk atas kelahiran putri abang yang ketujuh dari bidadari abang yang kedua.. semoga aktivitas-aktivitas dakwah abang tetap lancar dan mendapat keberkahan dari Allah Swt…. maaf jika ada kata-kata yang salah....

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hormat Saya
Ismail Amin, WNI sementara menetap di Qom Iran

Surat abang Arifin yang saya tanggapi, bisa dilihat disini:
https://www.facebook.com/kh.muhammad.arifin.ilham/posts/10154116227119739


Diawal tahun 2011 the Arab spring juga melanda Suriah. Aksi demonstrasi menuntut perubahan terjadi disejumlah kota besar di Suriah. Memang tidak bisa dipungkiri ada kejenuhan rakyat Suriah atas rezim Assad yang telah berlangsung sejak tahun  1971 dibawah Hafez al Assad yang kemudian digantikan oleh puteranya, Bashar al Assad sejak tahun 2000. Meskipun rezim Assad terbilang otoriter dikarenakan adanya ancaman dari luar (utamanya Israel) dan ketidakstabilan internal namun kebijakan-kebijakan Assad cenderung populis. Kebijakan populis itu terlihat dengan diterapkannya pelayanan kesehatan gratis dan pendidikan gratis hingga universitas. Selama 40 tahun klan Assad berkuasa (Hafez dan Bashar), pembangunan sosial dan ekonomi Suriah terbilang memuaskan, bahkan Suriah menanggung ratusan ribu pengungsi dari Palestina dan Irak dan terkenal dikawasan Timur Tengah sebagai negara terbaik dalam memberikan pelayanan sosial dan ekonomi kepada pengungsi.

Dibawah pemerintahan klan Assad, rakyat Suriah bisa dikatakan hidup makmur dan sejahtera, dengan hutang luar negeri nyaris nol. Namun semua itu berubah drastis pasca terjadi konflik internal yang melibatkan kekuatan asing. Suriah menjadi porak-poranda, dan sejumlah wilayahnya berada dibawah kendali kelompok-kelompok pemberontak. Rakyat Suriah yang sebelumnya sejahtera mendadak menjadi pengungsi yang mencari suaka dinegara-negara tetangga sampai ke Eropa.  

Tidak ada satupun rezim di dunia ini  yang tidak mempunyai oposisi, seberapapun ngototnya rezim itu berupaya mensejahterahkan seluruh lapisan rakyatnya. Tidak terkecuali rezim Assad. Selain ancaman eksternal, rezim Assad juga dihantui ancaman internal yang setiap saat bisa meronrong dan menggulingkan kekuasaannya. Jadi, hal yang wajar, jika terjadi aksi demonstrasi dan unjuk rasa yang dimobilisasi oleh gerakan-gerakan rakyat untuk menuntut perubahan ataupun penggantian rezim, namun kemudian menjadi tidak wajar jika aksi demonstrasi itu melibatkan kekuatan-kekuatan yang didukung dan disponsori kepentingan-kepentingan asing. Sebut misalnya, di Washington, London, Berlin, Paris, Ankara, Kairo, al-Manamah, Shanaa, Tehran, Jakarta dan kota-kota yang menjadi ibukota negara, adalah wajar jika rakyat menggelar aksi demonstrasi, sampai tidak jarang terjadi bentrokan antara aparat keamanan dan demonstran yang menelan korban jiwa dan luka-luka. Namun demonstrasi di Damaskus dan sejumlah kota di Suriah menjadi tidak biasa, terlebih lagi, para demonstran tidak sekedar menggelar aksi damai melainkan angkat senjata, meledakkan bom-bom berkekuatan tinggi dan mendapatkan suplay senjata dari luar negeri.


Pertarungan antara rezim Assad dan pihak oposisi yang berkekuatan senjata membuat konflik semakin berlarut-larut. Kelompok oposisi yang didukung AS, Israel, negara-negara Barat, Turki, Arab Saudi dan Qatar berhadapan dengan rezim Assad yang didukung China, Rusia dan Iran. Melalui jaringan media yang dimiliki AS, dibentuklah opini publik bahwa rezim Assad adalah rezim otoriter yang menindas rakyat tidak ubahnya rezim-rezim Arab lainnya yang sebelumnya telah terguling, seperti Husni Mubarak, Ben Ali dan Moammar Qhadafi. Sementara Arab Saudi, melalui posisinya yang kuat dalam dunia Islam menghasut dengan menggunakan isu sektarian Sunni vs Syiah, Assad yang Alawi menghabisi rakyat Suriah yang mayoritas Sunni. 

Melalui yayasan-yayasan dan lembaga-lembaga keagamaan yang didanai Saudi diseluruh dunia, umat Islam dihasut untuk mendukung kejatuhan Bashar Assad dan memberikan simpatiknya pada kelompok oposisi dan pemberontak. Fatwa dari ulama-ulama pilihan istana berhamburan, mulai dari ajakan jihad ke Suriah untuk menggulingkan Bashar Assad sampai tingkat ekstrim yang memfatwakan, halalnya darah Bashar Assad untuk ditumpahkan. Fatwa tersebut direspon cepat, dengan masuknya kelompok-kelompok militan bersenjata dari berbagai negara ke Suriah dengan mengklaim diri sebagai mujahidin. Media-media sosial bekerja cepat menyulut permusuhan dan kebencian pada Assad, mulai dari klaim bahwa Bashar Assad mengaku Tuhan dan memaksa rakyat Suriah menyembahnya sampai pada kelaparan dan kesulitan hidup yang melanda rakyat Suriah yang ditindas rezim sembari mengumpulkan dana dari umat Islam dengan kedok bantuan kemanusiaan. Sementara kesulitan hidup rakyat Suriah, justru berawal dari masuknya campur tangan militan asing yang ngotot berambisi merebut kekuasaan Assad.

Betapapun bencinya rakyat Suriah terhadap Assad, mereka tetap tidak ingin negara mereka dijajah dan berada dalam cengkraman kekuatan asing, karenanya rakyat Suriah justru berbalik dan kemudian secara besar-besaran menggelar dukungan terhadap Assad dalam menghadapi oposisi yang disupport pihak asing. Buktinya, melalui referendum dan pemilu, Assad tetap mendapat kepercayaan menjadi penguasa di Suriah. Buktinya, Assad tetap tak bergeming dari kedudukannya sebagai presiden meski telah dihantam kanan kiri, berkat dukungan penuh dari rakyatnya.
Karena itu, menyederhanakan persoalan bahwa koflik Suriah adalah konflik Sunni vs Syiah, sangat tidak beralasan. Ada banyak pertanyaan yang harus terjawab, jika tetap berdalih isu sektarian telah menjadi pemicu lahirnya tragedi kemanusiaan di Suriah. Berikut 22 pertanyaan yang harus dijawab oleh pihak yang tetap ngotot mendukung pemberontakan di Suriah dengan dalih Sunni vs Syiah.

Pertama, Kalau Assad membunuhi rakyatnya yang Sunni (yang justru mayoritas di Suriah), apa alasannya baru melakukannya sekarang, mengapa tidak dari dulu (klan Assad berkuasa sejak tahun 1971)?

Kedua, Kalau Assad dikatakan menindas rakyatnya yang Sunni, mengapa pengungsian rakyat Suriah kenegeri-negeri tetangganya justru baru terjadi setelah kelompok-kelompok militan yang berambisi menjatuhkan Assad itu masuk Suriah? Sebelum tahun 2011, tidak ada sorotan sedikitpun atas Suriah, terutama mengenai pelanggaran HAM dan ketidak adilan terhadap penganut mazhab tertentu. Tidak pula ada secuilpun informasi menyebutkan, Assad menelantarkan, memiskinkan dan merampas hak-hak rakyatnya yang Sunni.  Apa karena Suriah negara tertutup dan membungkam pers atau memang klaim-klaim itu tidak ada?

Ketiga, Kalau dikatakan Assad membenci dan memusuhi Sunni, mengapa Mufti Agung Suriah justru ulama Sunni? Almarhum Syaikh Ramadhan al Bouthi (menjabat Mufti Agung Suriah semasa hidupnya) justru gugur oleh aksi bom bunuh diri kubu pemberontak, bukan oleh tangan rezim.

Keempat, Kalau dikatakan Assad anti Sunni, apa manfaatnya menerima pengungsi dari Palestina yang kesemuanya Sunni dan memberikan pelayanan yang terhitung memuaskan bagi pengungsi? Assad bisa saja menutup perbatasannya sebagaimana yang dilakukan Mesir era Husni Mubarak sehingga pengungsi Palestina tidak bisa masuk Suriah. Mengapa itu tidak dilakukannya, sebagai bukti bencinya dia pada komunitas Sunni?

Kelima, Kalau Assad anti Sunni, mengapa Assad mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina bahkan memberi fasilitas kantor untuk HAMAS di Damaskus? Suriahpun memegang peranan penting dalam perang Arab melawan Israel berkali-kali.

Keenam, Jika Assad anti Sunni, mengapa komposisi pemimpin militer Suriah, 43% Sunni dan 37% Alawi, sementara komposisi menteri 58% Sunni dan 20% Alawi, bahkan Fahd Jassem al-Freij, Menteri Pertahanan Suriah justru orang Sunni?

Ketujuh, Kalau Assad mengaku Tuhan dan meminta disembah, mengapa dilayar TV disiarkan disetiap acara penting keagamaan (shalat Jum’at, shalat Id) Assad masih shalat bahkan diimami oleh imam jamaah dari ulama Sunni?

Kedelapan, Kalau Assad tidak mendapat dukungan rakyat, mengapa Assad masih bisa bertahan sampai saat ini sebagai penguasa tertinggi di Suriah?

Kesembilan, Kalau Assad hendak digulingkan dengan alasan demokrasi, mengapa negara-negara yang mendukung penggulingan itu seperti Arab Saudi dan Qatar justru negara depostik yang anti demokrasi?

Kesepuluh, Kalau Assad itu anti Sunni dan musuh besar umat Islam, mengapa AS dan Israel justru mendukung kejatuhannya, apa AS dan Israel itu pembela umat Islam?

Kesebelas, Kalau fatwa dan seruan untuk berjihad begitu mudahnya keluar dari lisan para mufti Saudi dan Qatar untuk berjihad menjatuhkan Bashar Assad, mengapa fatwa serupa tidak diberlakukan untuk berjihad melawan rezim Zionis?

Keduabelas, Kalau masuknya pasukan militan bersenjata dari berbagai negara ke Suriah untuk membela rakyat Suriah yang dizalimi rezim Assad mengapa hal yang sama tidak pernah dilakukan untuk membela rakyat Palestina yang menjadi bulan-bulanan rezim Zionis, apakah karena rakyat Suriah yang terzalimi itu Sunni, sementara rakyat Palestina bukan Sunni?

Ketigabelas, Kalau Turki, Arab Saudi dan Qatar punya dana besar untuk mendanai dan mensuplai senjata untuk kelompok oposisi dan pemberontak di Suriah, mengapa hal yang sama tidak dilakukan untuk mendanai dan mensuplay senjata kelompok-kelompok yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina?

Keempatbelas, Kalau Turki, Qatar dan Arab Saudi protes atas ikut campurnya Rusia untuk menghabisi ISIS di Suriah, mengapa ketika yang ikut campur itu Amerika Serikat, ketiga negara Arab itu justru mensupport?

Kelimabelas, Kalau dikatakan aksi-aksi teror yang dilakukan ISIS, Jabhah an Nushra, al Qaedah dan kelompok militan lainnya bertujuan membela rakyat Suriah yang Sunni, mengapa aksi serupa tidak dilakukan untuk membela rakyat Palestina yang Sunni? Mengapa tidak ada aksi bom bunuh diri yang dilakukan anasir ISIS dll di Tel Aviv sebagaimana yang mereka lakukan berkali-kali di Damaskus, Homs dll?

Keenambelas, Kalau dikatakan Bashar Assad harus dijatuhkan karena rakyat Suriah menuntut itu yang karena itu Saudi mensupport gerakan bersenjata untuk menggulingkan Assad, lantas mengapa di Yaman, Saudi malah bertindak sebaliknya dengan membela Mansour al Hadi yang yang terguling oleh kekuataan tuntutan rakyat? Konyolnya, Saudi malah menginvasi Yaman dengan ambisi mengembalikan al Hadi pada posisinya sebagai presiden Yaman. Bukankah ini standar ganda yang hipokrit?

Ketujuhbelas, Kalau Saudi punya jet-jet tempur canggih (meskipun itu sekedar beli dari AS), mengapa itu malah dikerahkan untuk memborbardir Yaman yang tidak punya satupun jet tempur, bukannya menghantam Israel yang menjadi akar semua konflik berdarah di Timur Tengah?  

Kedelapanbelas, Kalau dikatakan rakyat telah jenuh oleh kekuasaan klan Assad, apakah Saudi dan Qatar telah memastikan rakyatnya tidak jenuh pada kekuasaan keluarga yang berlaku di kedua negara kerajaan itu? Assad melakukan referendum sebagaimana tuntutan oposisi dan berhasil membuktikan diri sebagai pilihan rakyat, apa raja Saudi dan Qatar berani melakukan referendum di negara mereka?

Kesembilanbelas, Kalau dikatakan konflik di Timur Tengah dipicu pertikaian mazhab yang karena itu disebar berita, rezim Iran yang Syiah menindas Sunni Iran, mengapa tidak ada kelompok militan asing satupun yang masuk Iran untuk membela kelompok Sunni, sebagaimana yang terjadi di Suriah?

Keduapuluh, Kalau benar Assad membantai rakyat Suriah yang Sunni, mengapa untuk menunjukkan itu yang digunakan justru foto-foto korban pembantaian Zionis di Gaza, korban pembunuhan sadis di Brasil (sebagaimana yang diposting Farid Okbah yang kemudian diklaim korban rezim Assad) dan foto-foto lainnya yang terbukti hoax dan rekayasa?

Keduapuluhsatu, Kalaupun pada akhirnya Bashar Assad bisa digulingkan melalui kekuatan senjata, lantas siapa yang bisa menjamin bahwa kondisi Suriah akan jadi lebih baik dibanding ketika Assad berkuasa? Ataukah justru korporasi-korporasi asing yang didominasi AS yang mengambil banyak keuntungan dari kejatuhan Assad sebagaimana terbukti di Libya pasca penggulingan paksa Moammar Qhadafi?

Keduapuluhdua, Kalau dikatakan, Palestina baru bisa dibebaskan dan Israel dirontokkan setelah sebelumnya menghancurkan negara-negara Syiah (Suriah, Iran, Lebanon, Irak dan Yaman) lantas mengapa untuk menghancurkan negara-negara Syiah itu yang dilakukan justru bekerjasama dengan AS yang merupakan sponsor utama berdirinya negara Israel?

Itulah daftar pertanyaan yang harus dijawab pihak-pihak yang mengklaim pemicu konflik Suriah adalah pertikaian mazhab dan sedemikian lugu melakukan pemetaan konflik bahwa semua tragedi di Suriah bermula dari rezim Suriah yang dikuasai Alawi (baca: Syiah) melakukan teror mematikan atas komunitas Sunni di Suriah.



Silahkan baca berita mengenai kondisi umat Islam di Tajikistan. Tajikistan negara pecahan Uni Soviet dengan penduduk 90% muslim tapi dikuasai rezim yang mengidap penyakit Islamophobia akut. Emomali Sharifovich Rahmonov, presiden Tajikistan memberlakukan aturan yang memperkosa hak-hak umat Islam di negara tersebut. Bahkan peraturan-peraturan anti Islam yang diberlakukan lebih ekstrem dari yang diberlakukan di Barat. Di Tajikistan, penggunaan jilbab dilarang, laki-laki muslim dilarang memelihara jenggot, anak-anak muda dibawah 18 tahun dilarang memasuki masjid, aktivis-aktivis Islam yang mengajarkan Islam akan dipenjara dan menjadi tahanan politik bertahun-tahun tanpa melalui proses peradilan yang jelas, peredaran buku-buku Islam dilarang keras dan kebijakan anti Islam lainnya. Namun apa ada kecaman Mufti-mufti Islam (khususnya dari Arab Saudi) terhadap rezim Rahmonov? Apa ada pihak yang mencoba menggulingkan kekuasaannya dengan alasan membela hak-hak umat Islam di Tajikistan? Apa Assad memberlakukan kebijakan anti Islam dinegaranya sebagaimana Rahmonov menerapkannya di Tajikistan?.

Apa belum juga ditemukan benang merahnya, bahwa rezim-rezim di Timur Tengah bahkan di seluruh dunia, yang jika itu menguntungkan AS maka rezim itu akan dibiarkan bahkan didukung meski otoriter dan menindas rakyatnya, namun jika menghambat kepentingan-kepentingan AS maka berambisi untuk dijatuhkan?. Melalui tangan-tangan media yang dikendalikan AS maka dibentuklah opini publik, bahwa rezim itu anti demokrasi, tirani, melanggar HAM, anti kemanusiaan bahkan dimasukkan dalam daftar jaringan terorisme internasional. Ataupun kalau perlu, menggunakan kekuatan ekonomi dengan memberlakukan embargo untuk melumpuhkan rezim tersebut, sampai pada tingkat menginvasi, sebagaimana yang dilakukan AS atas Vietnam, Afghanistan, Irak dan Libya melaui NATO. Sementara Arab Saudi sebagai kacung AS, memuluskan proyek-proyek AS melalui fatwa-fatwa keagamaan. 

Anda bisa mengecek kembali, apa fatwa ulama-ulama Saudi mengenai Saddam Husain, Moammar Qhadafi, Osama bin Laden, Hizbullah Lebanon, HAMAS, Ikhwanul Muslimin, Bashar Assad, Houthi Yaman, rezim Iran dan siapapun yang anti AS?. Kalau bukan menyebut mereka kafir, minimal menyebut mereka teroris.




Terakhir, silahkan berpikir sebelum bertindak dan meyakini, bahwa yang terjadi di Suriah adalah gerakan perlawanan rakyat menghadapi pemerintahan yang zalim untuk menegakkan demokrasi sebagaimana sebelumnya yang diisukan untuk menjatuhkan Qhadafi di Libya, atau justru yang bertempur adalah kepentingan korporasi asing untuk mengambil keuntungan atas kekayaan alam Suriah melawan penguasa yang berpihak pada kepentingan negara dan rakyatnya. Bashar Assad tidak perlu dibela, dia bukan malaikat yang tidak pernah salah, bukan pula Nabi yang memimpin dengan bimbingan wahyu, dia tidak sempurna namun setidaknya oleh rakyat Suriah, dia adalah harapan dan simbol perlawanan, bahwa Suriah menolak tunduk dan dijajah.


Silahkan.

Ismail Amin,
Qom, 1 Maret 2016
WNI sementara menetap di Iran

* Jika anda merasa ini bermanfaat, silahkan disebar... Katakan tidak pada perang dan keserakahan.....


Welcome to My Blog

Tentang Saya

Foto saya
Lahir di Makassar, 6 Maret 1983. Sekolah dari tingkat dasar sampai SMA di Bulukumba, 150 km dari Makassar. Tahun 2001 masuk Universitas Negeri Makassar jurusan Matematika. Sempat juga kuliah di Ma’had Al Birr Unismuh tahun 2005. Dan tahun 2007 meninggalkan tanah air untuk menimba ilmu agama di kota Qom, Republik Islam Iran. Sampai sekarang masih menetap sementara di Qom bersama istri dan dua orang anak, Hawra Miftahul Jannah dan Muhammad Husain Fadhlullah.

Promosi Karya

Promosi Karya
Dalam Dekapan Ridha Allah Makassar : Penerbit Intizar, cet I Mei 2015 324 (xxiv + 298) hlm; 12.5 x 19 cm Harga: Rp. 45.000, - "Ismail Amin itu anak muda yang sangat haus ilmu. Dia telah melakukan safar intelektual bahkan geografis untuk memuaskan dahaganya. Maka tak heran jika tulisan-tulisannya tidak biasa. Hati-hati, ia membongkar cara berpikir kita yang biasa. Tapi jangan khawatir, ia akan menawarkan cara berpikir yang sistematis. Dengan begitu, ia memudahkan kita membuat analisa dan kesimpulan. Coba buktikan saja sendiri." [Mustamin al-Mandary, Penikmat Buku. menerjemahkan Buku terjemahan Awsaf al-Asyraf karya Nasiruddin ath-Thusi, “Menyucikan Hati Menyempurnakan Jiwa” diterbitkan Pustaka Zahra tahun 2003]. Jika berminat bisa menghubungi via SMS/Line/WA: 085299633567 [Nandar]

Popular Post

Blogger templates

Pengikut

Pengunjung

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Ismail Amin -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -